Nama kelompok:Abdul Rohman
:Ahmad Rais
:Siti Rukayah
:Nilah Saroyah
:Anis Saturidho
:Rofiahtul Adawiyah
Smkit attaqwa 9 Jl, Ujungharapan Gg. H. Kiman Musholla Assalam Kelurahan Bahagia Kabupaten Bekasi 17610
Bekasi 17610
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun ucapkan
kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Makalah tentang “Bullying” ini
dapat diselesaikan dengan baik. Makalah ini penulis buat untuk melengkapi tugas
individu mata kuliah Teknologi Informasi dalam BK.
Penulis ucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Dan
penulis juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi
internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi
bahan makalah. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu dosen
pembimbing mata kuliah Teknologi Informasi Dalam BK, yang telah memberikan
arahan serta bimbingan-nya selama ini sehingga penyusunan makalah dapat dibuat
dengan sebaik0-baiknya.
Penulis menyadari
masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini sehingga penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan
makalah ini.
Penulis mohon maaf
jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, karena
kesempurnaan hanya milik yang maha kuasa yaitu Allah swt, dan kekurangan pasti
milik kita sebagai manusia. Semoga makalah ini dapat bemanfaat bagi kita
semuanya.
Bekasi, Mei 2017
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Bab I. Pendahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
Daftar Isi ii
Bab I. Pendahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 3
Bab II. Pembahasan 4
A. Pengertian
Bullying………………………………………………………...5
B. Jenis - Jenis
Bullying……………………………………………………....6
C. Faktor penyebab bullying 7
D. Dampak Tindakan
bullying………………………………………………...9
E. Upaya Mengatasi
Bullying…………………………………………………12
Bab IV. Penutup 15
A. Kesimpulan 15
A. Kesimpulan 15
B. Saran 15
Daftar Pustaka 16
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Masa remaja merupakan
suatu fase perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Dimana pada
masa ini remaja memiliki kematangan emosi, sosial, fisik dan psikis. Remaja
juga merupakan tahapan perkembangan yang harus dilewati dengan berbagai
kesulitan. Dalam tugas perkembangannya, remaja akan melewati beberapa fase
dengan berbagai tingkat kesulitan permasalahannya sehingga dengan mengetahui
tugas-tugas perkembangan remaja dapat mencegah konflik yang ditimbulkan oleh
remaja dalam keseharian yang sangat menyulitkan masyarakat, agar tidak salah
persepsi dalam menangani permasalahan tersebut. Pada masa ini juga kondisi
psikis remaja sangat labil. Karena masa ini merupakan fase pencarian jati diri.
Biasanya mereka selalu ingin tahu dan mencoba sesuatu yang baru dilihat atau
diketahuinya dari lingkungan sekitarnya, mulai lingkungan keluarga, sekolah,
teman sepermainan dan masyarakat. Semua pengetahuan yang baru diketahuinya
diterima dan ditanggapi oleh remaja sesuai dengan kepribadian masing-masing.
Disinilah peran lingkungan sekitar sangat diperlukan untuk membentuk
kepribadian seorang remaja.
Setiap remaja
sebenarnya memiliki potensi untuk dapat mencapai kematangan kepribadian yang
memungkinkan mereka dapat menghadapi tantangan hidup secara wajar di dalam
lingkungannya, namun potensi ini tentunya tidak akan berkembang dengan optimal
jika tidak ditunjang oleh faktor fisik dan faktor lingkungan yang memadai.
Dalam pembentukan kepribadian seorang remaja, akan selalu ada beberapa faktor
yang mempengaruhi yaitu faktor risiko dan faktor protektif. Faktor risiko ini
dapat bersifat individual, konstekstual (pengaruh lingkungan), atau yang
dihasilkan melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya. Faktor
risiko yang disertai dengan kerentanan psikososial, dan resilience pada
seorang remaja akan memicu terjadinya gangguan emosi dan perilaku yang khas
pada seorang remaja. Sedangkan faktor protektif merupakan faktor yang
memberikan penjelasan bahwa tidak semua remaja yang mempunyai faktor risiko
akan mengalami masalah perilaku atau emosi, atau mengalami gangguan tertentu.
Rutter (1985) menjelaskan bahwa faktor protektif merupakan faktor yang
memodifikasi, merubah, atau menjadikan respons seseorang menjadi lebih kuat
menghadapi berbagai macam tantangan yang datang dari lingkungannya. Faktor
protektif ini akan berinteraksi dengan faktor risiko dengan hasil akhir berupa
terjadi tidaknya masalah perilaku atau emosi, atau gangguan mental kemudian
hari.
Lemahnya emosi
seseorang akan berdampak pada terjadinya masalah di kalangan remaja,
misalnya bullying yang sekarang kembali mencuat di media.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN BULLYING
Definisi bullying merupakan
sebuah kata serapan dari bahasa Inggris. Bullying berasal dari
kata bully yang artinya penggertak, orang yang mengganggu
orang yang lemah. Beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang seringkali
dipakai masyarakat untuk menggambarkan fenomena bullying di
antaranya adalah penindasan, penggencetan, perpeloncoan, pemalakan, pengucilan,
atau intimidasi (Susanti, 2006).
Barbara Coloroso
(2003:44) : “Bullying adalah tindakan bermusuhan yang dilakukan secara sadar
dan disengaja yang bertujuan untuk menyakiti, seperti menakuti melalui ancaman
agresi dan menimbulkan terror. Termasuk juga tindakan yang direncanakan maupun
yang spontan bersifat nyata atau hampir tidak terlihat, dihadapan seseorang
atau di belakang seseorang, mudah untuk diidentifikasi atau terselubung dibalik
persahabatan, dilakukan oleh seorang anak atau kelompok anak.
Dari berbagai definisi
di atas dapat disimpulkan bahwa bullying merupakan serangan
berulang secara fisik, psikologis, sosial, ataupun verbal, yang dilakukan dalam
posisi kekuatan yang secara situasional didefinisikan untuk keuntungan atau
kepuasan mereka sendiri. Bullying merupakan bentuk awal dari
perilaku agresif yaitu tingkah laku yang kasar. Bisa secara fisik, psikis,
melalui kata-kata, ataupun kombinasi dari ketiganya. Hal itu bisa dilakukan
oleh kelompok atau individu. Pelaku mengambil keuntungan dari orang lain yang
dilihatnya mudah diserang. Tindakannya bisa dengan mengejek nama, korban
diganggu atau diasingkan dan dapat merugikan korban.
B. JENIS – JENIS TINDAKAN
BULLYING
Barbara Coloroso
(2006:47-50) membagi jenis-jenis bullying kedalam empat jenis,
yaitu sebagai berikut:
1. Bullying secara verbal; perilaku
ini dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritikan kejam, penghinaan,
pernyataan-pernyataan yang bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual,
terror, surat-surat yang mengintimidasi, tuduhan-tuduhan yang tidak benar
kasak-kusuk yang keji dan keliru, gosip dan sebagainya
2. Bullying secara fisik; yang
termasuk dalam jenis ini ialah memukuli, menendang, menampar, mencekik,
menggigit, mencakar, meludahi, dan merusak serta menghancurkan barang-barang
milik anak yang tertindas. Kendati bullying jenis ini adalah
yang paling tampak dan mudah untuk diidentifikasi, namun kejadian bullying secara
fisik tidak sebanyak bullying dalam bentuk lain..
3. Bullying secara
relasional; adalah pelemahan harga diri korban secara sistematis
melalui pengabaian, pengucilan atau penghindaran. Perilaku ini dapat mencakup
sikap-sikap yang tersembunyi seperti pandangan yang agresif, lirikan mata,
helaan nafas, cibiran, tawa mengejek dan bahasa tubuh yang mengejek. Bullying
dalam bentuk ini cenderung perilaku bullying yang paling sulit dideteksi dari
luar.
4. Bullying elektronik; merupakan
bentuk perilaku bullying yang dilakukan pelakunya melalui
sarana elektronik seperti komputer, handphone, internet, website, chatting
room, e-mail, SMS dan sebagainya. Biasanya ditujukan untuk meneror korban
dengan menggunakan tulisan, animasi, gambar dan rekaman video atau film yang
sifatnya mengintimidasi, menyakiti atau menyudutkan.
C. FAKTOR PENYEBAB
BULLYING
Bullying dapat terjadi
dimana saja, di perkotaan, pedesaan, sekolah negeri, sekolah swasta, di waktu
sekolah maupun di luar waktu sekolah. Bullying terjadi karena
interaksi dari berbagai faktor yang dapat berasal dari pelaku, korban, dan
lingkungan dimana bullying tersebut terjadi.
D. DAMPAK TINDAKAN
BULLYING
Bullying memiliki
berbagai dampak negatif yang dapat dirasakan oleh semua pihak yang terlibat di
dalamnya, baik pelaku, korban, ataupun orang-orang yang menyaksikan tindakanbullying.
|
No
|
Jenis Bullying
|
Tindakan bullying
|
Keterangan/Cerita
|
|
1.
|
verbal
|
Menghina
|
Pada suatu hari saya
melihat orang yang sedang diam tiba tiba datang seseorang dengan teman2 nya
dan langsung mengatai dengan omongan”Ada orang yang gk bisa main komputer”
|
|
2.
|
Non verbal
|
menendang
|
Senin 3 mei 2017 saya
melihat Dono(nama samaran) yang sedang
asyik minum es lalu ada Joni(nama samaran) dan teman teman nya mengajak Dono
untuk tidak mengikuti jam pelajaran,si
joni pun kesal karena Dono tidak mau menuruti Perintah si joni.Lalu si joni
pun menendang kaki si Dono dan pergi begitu saja
|
|
3.
|
Verbal
|
Mengejek
|
Selasa 4 mei 2017 saya
melihat Kevin (nama samaran)Sedang asyik membaca buku,lalu si patrick(nama samaran) masuk dan langsung
merampas buku si Kevin si kevin pun diam karena dia anaknya pendiam,si
patrick pun langsung melemparkan buku nya si kevin ke wajahnya dan berkata
dasar Gagu
|
E. UPAYA MENGATASI
BULLYING
Dalam rangka mencegah bullying,
banyak pihak telah menjalankan program dan kampanye anti bullying di
sekolah-sekolah, baik dari pihak sekolah sendiri, maupun organisasi-organisasi
lain yang berhubungan dengan anak. Namun, pada nyatanya, bullying masih
kerap terjadi di sekolah-sekolah di Indonesia, seperti yang dapat kita amati
melalui kejadian baru-baru ini di salah satu SMA swasta yang disebutkan di awal
tulisan ini:
1. Membantu anak-anak mengetahui dan
memahami bullying
Dengan menambah pengetahuan anak-anak
mengenai bullying, mereka dapat lebih mudah mengenali saat bullying menimpa
mereka atau orang-orang di dekat mereka. Selain itu anak-anak juga perlu
dibekali dengan pengetahuan untuk menghadapi bullying dan
bagaimana mencari pertolongan.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan pemahaman anak mengenai bullying, diantaranya:
·
Memberitahu pada anak bahwa bullying tidak baik dan tidak
dapat dibenarkan dengan alasan maupun tujuan apapun. Setiap orang layak
diperlakukan dengan hormat, apapun perbedaan yang mereka miliki.
·
Memberitahu pada anak mengenai dampak-dampak bullying bagi
pihak-pihak yang terlibat maupun bagi yang menjadi “saksi bisu”.
2. Memberi saran mengenai cara-cara
menghadapi bullying
3. Membangun hubungan dan komunikasi dua
arah dengan anak
4. Mendorong mereka untuk tidak menjadi
“saksi bisu” dalam kasus bullying
,
5. Membantu anak menemukan minat dan
potensi mereka
· Jangan membawa
barang-barang mahal atau uang berlebihan. Merampas, merusak, atau menyandera
barang-barang korban adalah tindakan yang biasanya dilakukan pelaku bullying.
Oleh karena itu, sebisa mungkin jangan beri mereka kesempatan membawa barang
mahal atau uang yang berlebihan ke sekolah.
· Jangan sendirian.
Pelaku bullying melihat anak yang menyendiri sebagai “mangsa” yang potensial.
Oleh karena itu, jangan sendirian di dalam kelas, di lorong sekolah, atau
tempat-tempat sepi lainnya. Kalau memungkinkan, beradalah di tempat di mana
guru atau orang dewasa lainnya dapat melihat. Akan lebih baik lagi, jika anak
tersebut bersama-sama dengan teman, atau mencoba berteman dengan anak-anak
penyendiri lainnya.
· Jangan cari gara-gara
dengan pelaku bullying.
· Jika anak tersebut
suatu saat terperangkap dalam situasi bullying, kuncinya adalah tampil percaya
diri. Jangan memperlihatkan diri seperti orang yan lemah atau ketakutan.
· Harus berani melapor
pada orang tua, guru, atau orang dewasa lainnya yang dipercayainya. Ajaklah
anak tersebut untuk berani bertindak dan mencoba
6. Memberi teladan lewat sikap dan
perilaku
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Bullying adalah
suatu tindakan negatif yang dilakukan secara berulang-ulang dimana tindakan
tersebut sengaja dilakukan dengan tujuan untuk melukai dan memnuat seseorang
merasa tidak nyaman.
Pemahaman moral adalah
pemahaman individu yang menekankan pada alasan mengapa suatu tindakan dilakukan
dan bagaimana seseorang berpikir sampai pada keputusan bahwa sesuatu adalah
baik atau buruk. Pemahaman moral bukan tentang apa yang baik atau buruk, tetapi
tentang bagaimana seseorang berpikir sampai pada keputusan bahwa sesuatu adalah
baik atau buruk.
Peserta didik dengan
pemahaman moral yang tinggi akan memikirkan dahulu perbuatan yang akan
dilakukan sehingga tidak akan melakukan menyakiti atau
melakukan bullying kepada temannya.
Selain itu,
keberhasilan remaja dalam proses pembentukan kepribadian yang wajar dan
pembentukan kematangan diri membuat mereka mampu menghadapi berbagai tantangan
dan dalam kehidupannya saat ini dan juga di masa mendatang. Untuk itu mereka
seyogyanya mendapatkan asuhan dan pendidikan yang menunjang untuk
perkembangannya.
B. SARAN
1.
Hendaknya pihak sekolah proaktif dengan membuat program pengajaran
keterampilan sosial, problemsolving, manajemen konflik, dan
pendidikan karakter.
2.
Hendaknya guru memantau perubahan sikap dan tingkah laku siswa di dalam
maupun di luar kelas; dan perlu kerjasama yang harmonis antara guru BK,
guru-guru mata pelajaran, serta staf dan karyawan sekolah.
3.
Sebaiknya orang tua menjalin kerjasama dengan pihak sekolah untuk
tercapainya tujuan pendidikan secara maksimal tanpa adanya tindakan bullying antar
pelajar di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
v http://dsh231295.blogspot.com/2014/07/makalah-bimbingan-dan-koseling-bullying.html(Minggu
20 April 2015 jam akses 20.15)
v http://adityawiryatama.blogspot.com/2014/12/makalah-maraknya-perilaku-bullying-di.html
( Minggu 20 April 2015 jam akses 21.32 )
v http://www.psychologymania.com/2012/06/dampak-bullying-bagi-siswa.html
( Minggu 20 April 2015 jam akses 21.32 )
v http://naufal.smamda.org/2009/05/28/bullying-di-sekolah-dan-upaya-meminimalisir
(Minggu 21 April 2015 Jam akses 8.36)

